728x90 AdSpace

Powered by Blogger.
Thursday, 10 November 2016

SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA MUHAMMADIYAH DI CABANG WULED TIRTO PEKALONGAN


Mayoritas masyarakat islam jaman dulu islamnya tidak murni kebanyakan ajarannya masih tercampur dengan ajaran hindu, budha dan itu juga terjadi dimasyarakat islam wuled dan karangjati islamnya masih bercampur ilmu ruh, masyarakat percaya bahwa orang yang meninggal itu setiap malam jum’at mesti kembali kerumah, maka setiap malam jum’at harus dikasih sajen diletakkan dikolong tempat tidur. Secangkir teh atau kopi,kembang telon dan rokok kalau yang meninggal laki-laki kalau yang meninggal perempuan dikasih kinang, selain itu masyarakat islam di wuled dan karangjati lebih senang membaca layang manakib dibanding dengan membaca Al-Qur’an. Dan masih banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran islam  diantaranya orang yang hamil 7 bulan dibuatkan selamatan (tinggepan), dan para petani kalau mau panenan disetiap pojok sawah dikasih sajen dan masih banyak lagi hal-hal yang menyimpang.
Dengan adanya hal-hal yang demikian lalu tersirat dibenak H. Dahlan semuanya itu kayak tidak masuk akal sehingga timbul difikiran beliau untuk meluruskan ajaran islam yang murni dan tidak tercampuri oleh ajaran hindu, budha dan  bisa diterima akal sehat.     
Berdirinya Muhammadiyah Wuled pertama kali diprakarsai oleh Bpk. H. Dahlan, beliau adalah asli orang dukuh karangjati kemudian beliau menikah dengan gadis dari desa wuled anak seorang kepala desa wuled yaitu Bpk. Syayidi yang bernama Warda’i, dari perkawinan tersebut H. Dahlan dikarunia tiga orang anak yaitu :
1.  Indun
2.  Kuning
3.  Sundari
H. Dahlan bekerja sebagai seorang pedagang kerbau, dalam perdagangan kerbau tersebut beliau mempunyai teman yang berasal dari Ambokembang yang bernama H. Amsor
Disamping sebagai seorang pedagang kerbau H. Amsor juga seorang kyai dan Pengurus Muhammadiyah Pekajangan dan Ambokembang, beliau juga biasa bertabligh ke kesesi dan kajen.
Karena kedekatan antara H. Amsor dengan H. Dahlan akhirnya beliau terpengaruh dan timbul dalam hatinya ingin sekali untuk mengadakan pengajian Muhammadiyah didesanya, karena tekadnya sudah bulat dan keinginannya untuk mengadakan pengajian Muhammadiyah didesanya, dengan keberanian beliau kemudian mengajak saudara-saudaranya di karangjati dan mengajak saudara-saudaranya dari pihak istrinya yang di wuled, dan kebetulan juga H. Dahlan punya kakak kandung yang bernama Ibu Siwar dan adik kandung yang bernama H. Muhtar yang berada di wuled dan kebetulan mereka mendukung keinginan H. Dahlan, apalagi ayah mertua H. Dahlan yaitu Bpk. Syayidi adalah seorang kepala desa wuled yang punya pengaruh kuat didesa wuled juga mendukung beliau.
Kalau tidak ada dukungan dari ayah mertuanya yang seorang kepala desa mungkin H. Dahlan akan kesulitan mengadakan Pengajian Muhammadiyah, karena pada waktu itu orang – orang sama sekali masih rendah sekali pengetahuan agamanya dan mayoritas tidak berpendidikan.
Dengan izin dari ayah mertuanya H. Dahlan berjalan – jalan kerumah-rumah saudara-saudaranya yang terdekat yang berada di wuled dan karangjati, baik saudaranya yang ada diwuled dan karangjati yang didatangi H. Dahlan setuju untuk berkumpul dirumah beliau yaitu yang sekarang menjadi rumah ibu Zakiyah, diantara saudara-saudaranya yang datang yang dari wuled adalah :
1.    H. Muhtar adik kandung H. Dahlan
2.    Drahim kakak ipar H. Dahlan
3.    Karngat adik ipar H. Dahlan
4.    Siwir pakde H. Dahlan
5.    Karim
6.    Said
7.    Rasiwan
8.    Shomad
9.    Ratib Asari
10.  Syayidi ayah mertua H. Dahlan dan Kepala Desa Wuled
Kemudian saudara-saudaranya dari karangjati adalah :
1.    H. Irfan
2.    Johari
3.    Wasi’in
4.    Karijan
5.    Wongso
6.    H. Dahlan
Dari hasil pertemuan tersebut diputuskan untuk mengadakan pertemuan satu minggu sekali yaitu setiap malam rabo.
Pengajian pertama bertepatan pada malam balik kloso dari pengantin Wasi’in bin H. Irfan dengan Jarot binti binti Sarda’i adik ipar H. Dahlan, karena istri Sarda’i adalah adik kandung dari H. Dahlan yang bernama Ruminah yang biasa dipanggil Rumi.
Pengajian pertama yang menjadi tonggak sejarah awal berdirinya Muhammadiyah di Wuled yang bersamaan dengan malam balik kloso Wasi’in dengan Jarot terjadi pada malam rabo tanggal 14 Dzul Hijjah 1352 H. Bertepatan dengan tahun 1932 M.
Pengajian pertama dihadiri oleh saudara-saudaranya yang telah didatangi oleh H. Dahlan kerumah-rumah sebanyak 16 orang, berikut nama-nama dari 16 orang tersebut dan kami sampaikan pula sampai keturunannya sampai sekarang :
01.  Kepala Desa Syayidi                                      Prayitno (Seno)
02.  H. Dahlan                                                       Basari
03.  Wasi’in                                                           Dhuriyah
04.  Karngat                                                          Kartini
05.  Siwir                                                               Musti’ah
06.  Drahim                                                           Rokhmanto
07.  Rasiwan                                                         Ndikromin
08.  H. Mohtar                                                      Sumiyati
09.  Karim                                                             Hj. Sukiyah
10.  Said                                                                Kaprawi→Safrodin,Muchlis
11.  Ratib Asari                                                     Sayuti→Suherlis
12.  H. Irfan                                                          Muridah→Hj. Soriyah
13.  Wongso                                                          Munajah
14.  Karijan                                                           Sambyah→Hj Djohariyah
15.  Shomad                                                          Casrokha
16.  Johari                                                              Cardo,Mar’i
Karena pengajian pertama terjadi bertepatan dengan malam balik kloso pengantin Wasi’in dan Jarot, H. Dahlan menunggui sampai acara tersebut selesai dan langsung mengajak wasi’in untuk ikut berkumpul dirumah beliau, H. Dahlan bilang in kamu harus ikut karena kata H. Amsor, pertemuan atau pengajian harus ditulis jadi kamu harus berangkat.
Pada waktu itu dari 16 orang yang hadir hanya Wasi’in lah satu-satunya orang yang bisa menulis dan yang lainnya buta huruf latin, jadi sebagai yang termuda dan bisa menulis dan diajak oleh pakdenya walau dalam suasana masih pengantin baru wasi’in ikut dalam pembukaan pengajian tersebut.
Setelah pengajian dilaksanakan sebanyak sepuluh kali lalu dimusyawarahkan yang ikut pengajian supaya membawa uang iuran sebanyak satu ketip setiap mengikuti pengajian.
Uang satu ketip pada waktu kalau dibelikan beras dapat satu beruk, yang memegang uang / bendahara Karngat dan sebagai juru tulis / sekretaris Wasi’in begitu terus berjalan kira-kira sampai dua tahun.
Pengajian tidak hanya ditempatkan dirumah H. Dahlan terus akan tetapi bergilir kadang-kadang dirumah Syayidi sebagai kepala desa dan sekaligus sebagai mertuanya, dan juga ditempatkan dirumah isteri kedua syayidi yaitu ditempat Marti’ah yang sekarang menjadi rumah Masitah Rajuki, pengajian tidak hanya dilakukan di wuled akan tetapi juga bergilir ke karangjati yaitu dirumah Wongso yang sekarang menjadi rumah Munajah Palal dan dirumah Karijan yang sekarang menjadi rumah Suhanah Nasution.
Setelah pengajian berjalan dua tahun baru H. Dahlan mengadakan / mendirikan sekolahan yang dibuat disamping rumahnya sendiri bangunannya terbuat dari bambu dan atapnya welit dibuat sendiri, dan muridnya yang pertama ada 15 orang diantaranya yaitu :
01.  Rahmat                              06.  Kasrin                                          11.  Warti’ah
02.  Dalim                                 07.  Tahuri Sarda’i                             12.  Markiyah
03.  Ba’i                                    08.  Subari H. Irfan                            13.  Jaemah
04.  Darso                                 09.  Indun H. Dahlan                         14.  Mu’ah
05.  Jamsari                               10.  Rumi                                           15.  Jarot
Sebagai guru yang mengajar dari pekajangan yaitu Bapak Jamsari, guru digajih oleh Muhammadiyah sebulan satu ringgit, satu ringgit itu sama dengan dua puluh lima ketip selain digajih dengan uang gurunya setiap hari dikasih nyamian berupa singkong bakar dan teh manis.
Pengajian berjalan terus sampai beberapa tahun sekitar 4 tahun, setelah dipandang perlu untuk mendirikan masjid maka pada tahun 1936 didirikanlah sebuah masjid dengan tanah wakaf dari Bapak H. Mawardi dan anak-anak yang sekolah disuruh untuk mengambil pasir dari sungai karangjati.
Setelah masjid dibangun dan orang-orang yang ikut dalam pengajian mulai bertambah, akhirnya sekolahan pun dipindah yang tadinya disebelah rumah H. Dahlan sekolahan dibangun disebelah utara masjid dengan tanah wakaf dari Bapak Syayidi sementara sekolahan yang disebelah selatan tanahnya dari beli, dengan dibangunnya sekolahan akhirnya murid-muridnya pun bertambah banyak.
H. Dahlan ialah pendiri Muhammadiyah di wuled dan karangjati, sekaligus juga beliau menjadi ketua sejak tahun 1932 – 1954. Ditahun 1938 isteri H. Dahlan yaitu Ibu Warda’i meninggal dunia kemudian beliau menikah kembali dengan Ibu Sumi’ah dari perkawinan beliau yang kedua dikarunia tiga orang anak yaitu :
1.  Luwiyah
2.  Basari
3.  Sadeli
Dan akhirnya H. Dahlan tutup usia pada tahun 1955

Setelah sepeninggal H. Dahlan lalu semua pengurus bermufakat sebagai pengganti beliau adalah H. Adam, tapi H. Adam menjabat ketua hanya sebentar karena dalam bekerja tidak sesuai yang diharapkan setelah itu yang menggantikan ketua adalah Subari H. Irfan sampai tiga periode, lalu diganti sementara oleh Suhari tapi Suhari juga menjabat ketua tidak lama karena adanya masalah kemudian jabatan ketua dikembalikan lagi ke Subari setelah itu jabatan ketua dijabat oleh Supardi Thoyib.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 comments:

  1. apakah benar..bahwa dulu di masjid wuled itu ada beduknya..?

    ReplyDelete

Item Reviewed: SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA MUHAMMADIYAH DI CABANG WULED TIRTO PEKALONGAN Rating: 5 Reviewed By: ahshisugisenju